Ah...
lagi-lagi kalian datang bersamaan. Aku sudah melupakan kalian sejak lama.
Ketika tiba-tiba saja kalian datang tanpa izin. Tidak! Aku tak pernah
mengundang kalian untuk masuk ke dalam hatiku. Tidak sekalipun!
Aku
tidak mengerti bagaimana memulainya, semua terjadi begitu saja. Semuanya.
Tiba-tiba saja semua menghilang, ataukah hal ini sudah mulai terjadi sejak
lama? Aku sunguh tak tahu, aku benar-benar tidak mengerti. Semuanya tiba-tiba
berubah, rasa, asa, harapan, dan bentuk. Semua tampak asing, semua memburam.
Tak ada yang kukenali.
Aku
tahu, aku sudah sering sendiri, dan merasa kesepian, tapi tidak seperti malam
ini, semua tampak begitu jelas. Bahwa kami telah berada di dunia yang berbeda.
Dan aku, sedikitpun tak dapat kusentuh dunia mereka. Butuh waktu yang lama, dan
sangat lama untuk sampai pada kenyataan ini. Dan butuh waktu yang lebih lama,
dan lebih lama lagi untuk dapat menerimanya, utuh, tanpa lubang.
Dan
aku tak dapat melakukannya sekarang. Total.
Aku
ingin berteriak, aku sungguh tak dapat menerimanya. Walaupun sepertinya kau
tahu ini memang kesalahanku, aku sudah menolak satu-satunya orang yang dapat
mengisi kekosongan yang mereka tinggalkan. Tapi itu berarti membohongi diriku
sendiri. Dan aku tak berharap akan melakukannya untuk alasan apapun. Dan
disinilah aku.
Mereka
berkata, “Jangan seperti ini, we’re not leaving you.” Tapi itu semua tak
berguna, aku tahu kalian tak pernah meninggalkanku, waktu yang melakukannya.
Dan kita tak bisa memutar kembali waktu. Atau memang kita telah saling
meninggalkan tanpa sadar? Bisa sajakan?
Aku
benar-benar ingin menangis sekarang. Keadaan ini benar-benar menyakitiku. Rasa
sakit ini menghimpitku, air mataku bahkan tak dapat keluar. Dan tak ada yang
kurasakan, aku tahu hal ini akan terjadi, aku hanya tak siap. Aku tak menemukan
apapun untuk menopangku, sedang kakiku mulai goyah berdiri. Aku benar-benar
hanya butuh kalian disini. Sungguh. Tapi bahkan aku tak dapat memanggil kalian,
aku tak ingin egois. Menarik kalian dari dunia yang kalian cintai, orang-orang
yang kalian sayangi.
Seharusnya aku tak memulainya, ikatan yang kubuat sendiri, yang akhirnya tak bisa kuputuskan. Ikatan yang pada akhirnya melilitku, mengambil nafasku. Tapi... sungguh, aku sungguh tak menyesal, aku menyangi kalian, dengan seluruh nafas yang kupunya. Satu-satunya yang kusesalkan hanya karena telah menjadi orang yang bodoh, yang tak bisa lepas dari keadaan ini, yang berakhir dengan mengasihani diri sendiri karena telah menjadi orang yang bodoh. Bukan, bukan karena aku tak bisa lupakan kalian, tapi karena aku tak bisa merelakan kalian disana.
