Sepertinya
aku sudah bisa menerima semuanya. Baik, mungkin tidak semuanya, tapi
perlahan-lahan rasa ketergantungan ini menghilang. Kami memang tidak bersama
lagi, dunia tempat kami tinggal memang sudah berbeda. Aku mulai memahaminya
perlahan. Tidak apa-apa. Bukankah sejak awal aku memang sering sendiri, jadi
kenapa sekarang hal itu harus jadi masalah? Ada sedikit perbedaan memang,
sedikit lebih ‘flat’ dibanding biasanya, berita-berita penting, yang bahagia
ataupun tidak, tak lagi keberitahukan terlebih dulu kepada mereka. Mereka tak
lagi menjadi yang paling utama sekarang.
Seperti
inikah kehidupan orang dewasa?
Sakit
sekali di awal, penuh letupan, tak stabil, kemudian mulai tenang dipertengahan,
dan terasa sedikit datar di akhir. Aku melaluinya dengan penuh luka, air mata,
tawa getir, dan hembusan nafas panjang pada akhirnya. Semua memang harus
seperti ini...
Jika
nantinya kami benar-benar terpisah, tak pernah bertemu, atau bahkan saling
melupakan, aku tak keberatan. Bukankah kehidupan memang seperti itu. Beberapa
orang menyapaku seolah kami baru bertemu beberapa kali *padahal kami sudah
menjadi teman selama lebih dari sepuluh tahun* kami merasa canggung satu sama
lain. Hingga akhirnya kami hanya saling melalui. Ironis.
Tapi
aku tak akan melupakan kalian, aku bahkan masih ingat janji yang kubuat saat
aku masih di sekolah dasar dulu. Janji untuk tak saling melupakan.
Sudah
lebih dari 17 tahun, dan tak bisa lebih lama lagi. Aku mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen boleh, engga juga gapapa....