Author: monogataRii
CHAPTER
II
-ANO
HITO-
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~
“Entah
denganmu, tapi aku merasa wajahmu selalu terlihat seperti orang yang ingin
menangis. Bagus sekali seandainya aku bisa melihatmu tersenyum.”
08.40, dia sudah menyelesaikan
sarapannya, dan pekerjaannya baru akan dimulai jam sepuluh pagi ini, meskipun
hari ini hari libur, tidak berarti perpustakaan harus tutup sekalipun tak ada
pengunjung sama sekali. “Huft... Sepertinya
hari ini akan lebih membosankan...” dia
membereskan bekas sarapannya, lalu bersiap untuk berangkat.
Dia menggunakan mantel hitam setinggi
leher, tak perduli hari itu panas atau dingin, dia benar-benar tak perduli.
Sebenarnya untuk ke perpustakaan dia hanya butuh dua puluh menit, tapi dia
harus datang tiga puluh menit lebih awal sebelum perpustakaan dibuka. Setelah
memastikan rumahnya aman, dia lalu menguncinya, “Aku berangkat...” Tak ada yang menjawab karena memang dia hanya
tinggal sendiri, orang tuanya sudah wafat tiga tahun yang lalu. Sedangkan
kakaknya entah dimana, tak pernah memberi kabar seolah tak perduli apakah adik
satu-satunya itu masih hidup atau tidak.
09.20, akhirnya dia sampai
perpustakaan. Saat itu gerimis kembali turun, belum jam sepuluh pagi, tapi
langit begitu gelap seolah ingin runtuh. Tapi, ya tentu saja, dia tak perduli
dengan semua itu, yang dia tahu, perpustakaan harus tutup jam empat sore setiap
harinya.
Dia mulai mengelap satu persatu meja
dan kursi yang ada disana, mengecek buku-buku yang masih sedikit berantakan,
dan mengurutkannya sesuai abjad, lalu memisahkannya sesuai ketegori. Dan
terakhir meletakkanya di rak masing-masing. Dia tak menyalakan pendingin
karena
cuaca hari ini lebih dingin dari biasanya. Dan akhirnya, tepat pukul sepuluh.
Dia membuka kunci pintu dan membalik tanda “CLOSE” yang tergantung di pintu
menjadi “OPEN”.
Sedikit terkejut karena ternyata sudah
ada seseorang yang menunggu di depan pintu, orang itu membalikkan badannya dan
tersenyum. “Pagi!” Dia tak menjawab, hanya mengangguk pelan kemudian
mempersilahkannya masuk. Dia tahu orang itu, satu-satunya orang dewasa yang
sering mengunjungi perpustakaannya, pelanggan tetapnya.
Menurutnya, orang itu cukup tampan, dia
juga ramah, dia hanya tak mengerti kenapa orang itu senang sekali datang ke
perpustakaan. Bukankah banyak tempat yang lebih menarik dari perpustakaan. Lagi
pula penampilannya sama sekali tak terlihat seperti orang kesepian,
sampai-sampai harus datang ke sebuah perpustakaan sepi di pinggiran kota seperti
ini. Betul-betul berbanding terbalik dengan apa yang terlihat.
Orang itu suka membaca apa saja, mulai
dari sejarah, karya tulis lama sampai modern, arkeologi, kebudayaan nasional
ataupun asing, bahkan buku pelajaran. Dan orang itu terlihat begitu berbinar
saat bertemu dengan buku-buku itu, seolah mereka adalah kekasih yang lama tak
dia jumpai. Dan akan terus seperti itu, sampai orang itu merasa terganggu,
karena pada hari biasa perpustakaan biasa menjadi tujuan para pelajar di kota,
terutama pelajar taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Orang itu akan terganggu
karena kebisingan, lalu pulang dengan wajah kecewa. Lucu.
Tetapi hari ini berbeda, orang itu
terlihat begitu bahagia dibanding biasanya, wajahnya berbunga-berbunga seolah
habis memenangkan sebuah rumah dan mobil impiannya. Dia tersenyum diam-diam,
jarang sekali ada orang seperti itu, terutama karena orang itu adalah orang
dewasa. Biasanya yang berwajah seperti itu hanya anak-anak karena mereka
melihat hal-hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Orang itu membaca sebuah ensiklopedia
tentang suatu negara sebagai bacaan pertama, cukup tebal, namun dia nampak
sangat antusias, memberi kesan dia akan menemukan sebuah koin emas jika dia
membukanya.
Chapter II -tbc-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen boleh, engga juga gapapa....