Senin, 28 Oktober 2013

Waiting the Rainbow Chap. II -tbc-


Author: monogataRii






CHAPTER II
-ANO HITO-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 ~~~~~~~~~~~~~~~~


“Entah denganmu, tapi aku merasa wajahmu selalu terlihat seperti orang yang ingin menangis. Bagus sekali seandainya aku bisa melihatmu tersenyum.”




08.40, dia sudah menyelesaikan sarapannya, dan pekerjaannya baru akan dimulai jam sepuluh pagi ini, meskipun hari ini hari libur, tidak berarti perpustakaan harus tutup sekalipun tak ada pengunjung sama sekali. “Huft... Sepertinya hari ini akan lebih membosankan...”  dia membereskan bekas sarapannya, lalu bersiap untuk berangkat.

Dia menggunakan mantel hitam setinggi leher, tak perduli hari itu panas atau dingin, dia benar-benar tak perduli. Sebenarnya untuk ke perpustakaan dia hanya butuh dua puluh menit, tapi dia harus datang tiga puluh menit lebih awal sebelum perpustakaan dibuka. Setelah memastikan rumahnya aman, dia lalu menguncinya, “Aku berangkat...” Tak ada yang menjawab karena memang dia hanya tinggal sendiri, orang tuanya sudah wafat tiga tahun yang lalu. Sedangkan kakaknya entah dimana, tak pernah memberi kabar seolah tak perduli apakah adik satu-satunya itu masih hidup atau tidak.

09.20, akhirnya dia sampai perpustakaan. Saat itu gerimis kembali turun, belum jam sepuluh pagi, tapi langit begitu gelap seolah ingin runtuh. Tapi, ya tentu saja, dia tak perduli dengan semua itu, yang dia tahu, perpustakaan harus tutup jam empat sore setiap harinya.

Dia mulai mengelap satu persatu meja dan kursi yang ada disana, mengecek buku-buku yang masih sedikit berantakan, dan mengurutkannya sesuai abjad, lalu memisahkannya sesuai ketegori. Dan terakhir meletakkanya di rak masing-masing. Dia tak menyalakan pendingin 
karena cuaca hari ini lebih dingin dari biasanya. Dan akhirnya, tepat pukul sepuluh. Dia membuka kunci pintu dan membalik tanda “CLOSE” yang tergantung di pintu menjadi “OPEN”.

Sedikit terkejut karena ternyata sudah ada seseorang yang menunggu di depan pintu, orang itu membalikkan badannya dan tersenyum. “Pagi!” Dia tak menjawab, hanya mengangguk pelan kemudian mempersilahkannya masuk. Dia tahu orang itu, satu-satunya orang dewasa yang sering mengunjungi perpustakaannya, pelanggan tetapnya.

Menurutnya, orang itu cukup tampan, dia juga ramah, dia hanya tak mengerti kenapa orang itu senang sekali datang ke perpustakaan. Bukankah banyak tempat yang lebih menarik dari perpustakaan. Lagi pula penampilannya sama sekali tak terlihat seperti orang kesepian, sampai-sampai harus datang ke sebuah perpustakaan sepi di pinggiran kota seperti ini. Betul-betul berbanding terbalik dengan apa yang terlihat.

Orang itu suka membaca apa saja, mulai dari sejarah, karya tulis lama sampai modern, arkeologi, kebudayaan nasional ataupun asing, bahkan buku pelajaran. Dan orang itu terlihat begitu berbinar saat bertemu dengan buku-buku itu, seolah mereka adalah kekasih yang lama tak dia jumpai. Dan akan terus seperti itu, sampai orang itu merasa terganggu, karena pada hari biasa perpustakaan biasa menjadi tujuan para pelajar di kota, terutama pelajar taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Orang itu akan terganggu karena kebisingan, lalu pulang dengan wajah kecewa. Lucu.

Tetapi hari ini berbeda, orang itu terlihat begitu bahagia dibanding biasanya, wajahnya berbunga-berbunga seolah habis memenangkan sebuah rumah dan mobil impiannya. Dia tersenyum diam-diam, jarang sekali ada orang seperti itu, terutama karena orang itu adalah orang dewasa. Biasanya yang berwajah seperti itu hanya anak-anak karena mereka melihat hal-hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Orang itu membaca sebuah ensiklopedia tentang suatu negara sebagai bacaan pertama, cukup tebal, namun dia nampak sangat antusias, memberi kesan dia akan menemukan sebuah koin emas jika dia membukanya.




Chapter II -tbc-

Untitled life32



“Hanya jika ada yang berubah diantara kita.”


Melihat betapa kuat kau berpegang pada tiang itu, perlahan-lahan keyakinanku pun terkikis. Pelan, terbang seperti kapas yang tertiup angin.

Kau pernah bertanya padaku, apakah aku pernah memikirkanmu sebagai masa depanku. Aku hanya berkata, “entahlah”, bodoh, tentu saja pernah. Bukankah itu adalah tujuan utama dalam suatu hubungan? Aku hanya tak ingin terbang terlalu tinggi. Karena mimpi yang terlalu indah pada akhirnya hanya akan menjadi mimpi buruk.

Hanya saja semua berbeda. Tentu saja. Setiap kali ada yang bertanya, aku hanya dapat tersenyum, tetapi dalam hati diam-diam aku selalu berkata, “Hanya jika dia berubah.” SELALU.

Karena kita memiliki tiang masing-masing. Dan tiang itu tak sama.

Dan sayangnya tak sama...



13.10.24



Regards: Shiroko