“Aku bisa cepat mati
kalau terus-menerus merasa bersalah seperti ini.”
Itu
kalimat yang gw ucapkan kira-kira lima tahun lalu, waktu itu semua masih berat,
yah… dibanding sekarang.
Sekarang
ada ocin, ada bu nov, ada jelek…
Well,
hampir tiga minggu ini gw menghindar dari mereka, dari ocin dan jelek lebih
tepatnya. Marah. Kecewa. Dan sedih. Memang bukan murni kesalahan mereka, tapi
ada hal-hal yang gak seharusnya mereka lakukan saat didepan gw, atau bahkan
dibelakang. Dan syangnya, gw gak punya hak untuk bicara seperti itu sama
mereka, karena itu gw memilih untuk menghindar. Entah sampai kapan.
Rasanya
sakit, tetap dekat dengan semua perasaan ini, perasaan bersalah, juga marah
yang tak kunjung reda. Malu, terutama sama diri gw sendiri yang punya perasaan
seperti ini padahal kita begitu dekat.
Tapi
kenapa begitu sulit? Hanya untuk berkata jujur??
“Hey,
aku gak pernah merasa cemburu sama ocin, gak sekalipun. Aku bahkan gak yakin
ini rasa cemburu, atau iri. Sejak dulu, sejujurnya aku selalu merasa jadi orang
ketiga, sampai detik ini. Karena itu, tolong jangan terus-terusan bilang kalau
aku Cuma cemburu. Mungkin memang cemburu. Karna selalu merasa jadi yang ketiga,
mereka bahkan manggil aku “istri muda”, kan??? Aku benci sama diri aku sendiri,
yang selalu merasa dinomor duakan, padahal memang begitu, kan? Aku ada setelah
ocin, jadi kenapa harus marah hanya karna kamu terlihat lebih nyaman saat sama
dia?? Tapi, tetap aja, kadang aku mau kalian lebih peka soal perasaan aku saat
kita ngumpul bareng. Dan aku benci kalau aku harus jelasin hal itu lagi. LAGI??
Iya, lagi. Dulu, ocin pernah bilang kalau dia gak peka, dia tau itu bisa bikin
aku merasa gak enak, tapi dia gak bisa nahan diri untuk gak bersikap seperti
itu. Lalu kenapa aku harus jelasin soal itu lagi?? Itu menyakitkan. Karena itu
aku lebih memilih diam, sambil berharap, kalian sadar, aku benar-benar gak
suka. Tapi sayang, kalian gak juga sadar… ata kalian tau?? Mungkin.
Andai kalian lebih peka.
Rasanya
seperti, kamu selalu punya alasan untuk nolak ajakan aku, tapi kamu selalu
punya alasan untuk bilang “iya” saat sama ocin. Kekanak-kanakan? Mungkin.
Saat
kalian ke hambalang, taman mini, kebun raya, dan terakhir, ennichisai. Aku gak
pernah lupa apa alasan kamu setiap kali kamu bilang, “maaf aku gak bisa”, tapi
toh aku gak pernah merengek untuk diiyakan. Sayang, apapun yang aku bilang, aku
tetap terlihat egois. Ocin memang gak salah, begitu juga kamu. Kalian gak punya
kewajiban untuk bilang atau enggak saat pergi berdua, karna itu memang bukan
hak aku untuk tau. Tapi, apa kalian pernah merasa sedikit keterlaluan saat
kalian lebih memilih gak bilang?
Ocin
sayang, cukup sekali aja aku dengar kamu bilang, “Kata Yanto jangan
bilang-bilang sama lu.” Itu menyakitkan, apa yang perlu disembunyikan??”
Gw
selalu mau bilang soal itu semua, tapi rasanya gak sanggup. Terlalu memalukan
buat gw. Iya, gw egois, nyimpen semua ini sendirian, menghilang sesuka hati
tanpa ngasih kalian kesempatan untuk tau gw kenapa.. maaf…
Iya,
aku selalu merasa marah setiap kali kamu bisa ngobrol dan ketawa bebas dengan
orang lain, sementara di depan aku kamu seperti orang asing. Bukankah aku
menyedihkan?
Tolong ingat satu hal. Ini juga gak mudah buat gw :')
2015.05.27
03.22 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen boleh, engga juga gapapa....