Minggu, 08 September 2013

DBSK Fanfic "W"




 "W"


 
Author : monogataRii
Diclaimer : Semua member DBSK punyanya orang tua masing-masing ^^v





+Changmin POV+

Hari ke 1835, pagi saat aku bangun tanpa kalian.



Sepi sekali, seperti tak ada lagi makhluk hidup selain diriku. Aku rindu semua tawa itu, bahkan  suara berisik kalian, aku bahkan rindu pada air mata yang jatuh setelah konser selesai. Karena rasa bahagia dan bangga karena kalian semua di sini. Mereka bilang aku menyedihkan, menghitung sudah berapa lama kalian meninggalkanku. Aku memang menghitungnya, sejak kita terpisah. Supaya aku bisa mengingatkan kalian saat kita kembali bertemu nanti.



Bahwa sudah beribu-ribu hari kita tak bersama, membagi perasaan bahagia, menangis bersama, atau hanya sekedar  meributkan hal kecil. Aku sungguh merindukan kalian...



“Hyung, kalian akan kembali, kan?”               





~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~


+Jaejoong POV+



Hari ke 1834. Aneh sekali rasanya, kali ini aku hanya bangun seorang diri. Biasanya Yunho akan membangunkan kalian satu-persatu, sementara aku akan membuat sarapan, terutama untuk adik terkecilku yang porsi makannya dua kali lipat dari member lainnya. Dan seperti biasa, kalian akan ribut mengenai hal-hal kecil, Junsu yang sibuk menggangu Changmin, atau Changmin yang akan membuat kalian pusing seharian. Huft... Tokyo sudah mulai terasa dingin, sepertinya musim gugur akan datang sebentar lagi.



Hari ini tak ada yang harus kulakukan, tak ada latihan, sesi foto, atau syuting.



Drrrrrttttt.... Drrrrrttttt....



Ponselku bergetar, rupanya Junsu, dia mengajakku keluar. “Maaf Junchan, aku sedang malas, kau ajak Chunnie saja.”



Ku balas singkat pesannya, dia hanya menggerutu... “Khukhukhu, mian..”




-tbc- 

Untitled life31



Karena terbiasa tidak diperdulikan, gw jadi terbiasa gak perduli sama orang lain, “karena hanya aku yang perduli pada diriku sendiri”. Jadi gw cuma perduli sama orang-orang yang perduli sama gw, dan gak perduli dengan yang lain, acuh atau tidak, benci atau tidak. Gw gak hidup untuk mereka, hidup mereka pun bukan untuk gw.

Because some peoples live with their pain, some even for years of their life. Not proud of course, it’s ridiculous acctualy, “how can, you can’t forget something that even peoples think it’s never exist?”

Jadi, untuk orang-orang yang perduli sama, gw, terima kasih, terima kasih sudah membuat saya berpikir, saya memang ada di dunia ini ^^


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Maaf karena saat itu aku tak membalas genggaman tanganmu, did you know how exiting my self that night?


God, i know someday, you will separate us, so in this time, let me enjoy my time with him, before i cry, let me laugh for him and smile caused him... THANK YOU.



2013.07.23
 



Regards : Shiroko 

Untitled life30



Nothing’s change, my life, my job, but something wrong with my feeling. A man? Bingo! He is younger, and he has different religion. Good friend, bad little brother. Nice in everything, except as a boyfriend, i think. Well, acctualy he not say anything, just say “i like older women”, i just hope it’s not me. And enough abbout a man.


And my brother. I don’t think i really  saw him as my sibling, i grew up without him. I don’t know to be a little sister. He is too far to be reach, and everytime i saw him, i just want to angry............................................................


2013.05.20



Dan gw gak inget kalo gw pernah nulis ini... -____-"
Gomen ne~ >_<



Regards : Kuroko

Untitled life29



Aku masih ingat saat aku pertama bertemu denganmu. Seseorang berkata padaku bahwa kau baru saja lulus sekolah. Ku pikir hebat sekali karena kau sudah mendapat pekerjaan bahkan ketika kau belum mendapatkan ijazahmu. Aku bahkan perlu beberapa bulan untuk mendapat sebuah pekerjaan. Segera setelah kita bertemu, aku langsung menyadari bahwa kita berbeda.

Ya, kita memang berbeda.
Bahkan sangat berbeda.

Dan seingatku, tiada hari tanpa pertengkaran, hal-hal sepele, seperti berebut pengupas wortel, atau sekedar cipratan air di meja prosesku. Aku sangat tak menyukainya. Hal-hal itu praktis menjadikan kita seperti musuh saat bertemu. Jadi kita tak pernah berhenti bertengkar. Lalu suatu hari, tiba-tiba semua berubah saat aku tahu ternyata kita memiliki satu kesamaan hobi. Dan kita mulai bicara layaknya seorang teman.

Siapa yang bisa mengira ternyata kita bisa jadi seperti sekarang? Kau mangisi hari-hariku lebih banyak dari yang sebelumnya, kau membuatku lebih banyak tersenyum lebih dari yang bisa kubayangkan. Dan kau selalu minta maaf lebih banyak dari kesalahan yang pernah kau buat.




2013.08.18




Regards : Shiroko