CHAPTER I
-AME-
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~
“Apa kau tahu bagaimana
rasanya, ketika orang yang kita cintai menikmati setiap detiknya untuk
mencintai orang lain? Aku rasa kau sudah tahu jawabannya, iya kan? Sakit
sekali.”
Pagi
ini gerimis lebih dulu bangun dari pada sosok itu, dia bangun di jam yang sama
tiap harinya, 04.45 pagi. Setelah membasuh wajahnya dengan air hangat, dia
menyiapkan sarapan. Dua tumpuk roti dengan selai kacang yang ia campur dengan
selai coklat. Dan segelas teh herbal yang tak terlalu manis. Dia
menghabiskannya dengan sebuah buku tebal ditangan kirinya, sementara tangan
kanannya dia gunakan untuk memegang sarapannya. Gerimis menemaninya pagi itu.
Setengah
jam kemudian dia sudah selesai dengan sarapannya. Bergegas mengambil handuk
yang berada di samping lemari pendingin. “Kira-kira,
yang coklat atau abu-abu?” Hari ini dia memakai celana hitam panjang,
sepatu converse yang sudah beberapa bulan sengaja tak dicuci olehnya, dia
memakai kaus panjang sewarna degan celananya, dan sebuah mantel panjang
berkerah tinggi berwarna coklat muda, dan sebuah syal berwarna pastel. Tambahan
gerimis pagi ini menambah dingin kota yang sudah dingin.
06.15.
Ketika pintu apartemen itu akhirnya terbuka. “Ah... samui...” dia berjalan sedikit tergesa, kaki jenjangnnya
begerak lincah menghindari genangan air, dan yah... dia sedikit menggigil,
meski sudah merapatkan mantel coklatnya. Dia bilang hari ini anginnya sedikit
kejam. Lima belas menit kemudian dia sampai disebuah subway, tak terlalu penuh
karena masih pagi, terlebih sebenarnya hari ini hari libur. Lalu kira-kira
kemana dia akan pergi?
“Hari ini
perpustakaannya pasti tidah terlalu ramai, aaah, akhirnya aku bisa menikmatinya
tanpa keributan.”
Betul
sekali. Perpustakaan. Tepatnya perpustakaan kota yang biasanya dipenuhi oleh
siswa sekolah. –eh? Perpustakaan? Baik sepertinya jam-jam yang ia lalui
dihampir setiap harinya belum cukup untuk memperhatikan semua buku-buku yang
dia bilang, “Mereka memiliki aroma yang
menawan.” Di dalam kereta dia melakukan kebiasanya yang belum berubah sejak
lima tahun yang lalu. Mendengarkan lagu melalui handphonenya, alih-alih sebuah
i-pod.
Kereta bergerak anggun melewai
beberapa stasiun, dan dia masih memejamkan matanya, setengah tertidur karena
perjalanan yang cukup jauh. Dan setelah 45 menit akhirnya dia sampai, tapi
tentu saja perjalanannya belum selesai. Meskipun perpustakan kota, tapi
tempatnya sedikit terpencil. Itulah kenapa banyak siswa sekolah yang sering
datang ketempat itu untuk belajar. Karena tak banyak fasilitas yang bisa mereka manfaatkan. Dan untuk itu dia harus naik bus selama 45
menit lagi. Sepertinya perjalanan yang melelahkan.
Baru sepuluh menit berlalu ketika
akhirnya dia benar-benar tertidur. Saat benar-benar sampai, dia terlonjak kaget
karena sang supir berteriak padanya apakah dia ingin turun. “Ne, wakarimashita! Terima kasih sudah
membangunkanku!” katanya sambil tersenyum kecut. Dia benar-benar kaget
sampai-sampai rasa kantuknya pergi tak tersisa. Baru jam sembilan pagi, dan
perputakaan baru akan dibuka satu jam lagi. “Saatnya
mengisi perut.”
Dia berjalan menuju sebuah kedai
kecil di seberang perpustakaan. Berpikir, sepertinya semangkuk mie bukanlah hal
yang buruk.
Dan sekarang, di depannya telah tersaji semangkuk
besar bakmie, dengan irisan besar daging di atasnya. Dan dia menyantapnya
dengan sangat lahap, malahan terlalu lahap, seolah dia tak bertemu makanan selama berhari-hari. “Hwaaah... aku merasa
sangat terhormat bisa memakanmu sepagi ini, hehehe...”
Sepertinya hari ini akan lebih
panjang dari biasanya....
~tbc~
NB:
Ini story bebas, tokoh utamanya sengaja gak dikasih nama, mau di anggap cewe boleh, cowo juga boleh... hohoho *ini buatan Kuroko loh* XD
Regards: Kuroko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen boleh, engga juga gapapa....