Selasa, 28 Mei 2013

Waiting the Rainbow Chap. I

Author: monogataRii





CHAPTER I
-AME-




~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 ~~~~~~~~~~~~~~~~


 “Apa kau tahu bagaimana rasanya, ketika orang yang kita cintai menikmati setiap detiknya untuk mencintai orang lain? Aku rasa kau sudah tahu jawabannya, iya kan? Sakit sekali.”



Pagi ini gerimis lebih dulu bangun dari pada sosok itu, dia bangun di jam yang sama tiap harinya, 04.45 pagi. Setelah membasuh wajahnya dengan air hangat, dia menyiapkan sarapan. Dua tumpuk roti dengan selai kacang yang ia campur dengan selai coklat. Dan segelas teh herbal yang tak terlalu manis. Dia menghabiskannya dengan sebuah buku tebal ditangan kirinya, sementara tangan kanannya dia gunakan untuk memegang sarapannya. Gerimis menemaninya pagi itu.


Setengah jam kemudian dia sudah selesai dengan sarapannya. Bergegas mengambil handuk yang berada di samping lemari pendingin. “Kira-kira, yang coklat atau abu-abu?” Hari ini dia memakai celana hitam panjang, sepatu converse yang sudah beberapa bulan sengaja tak dicuci olehnya, dia memakai kaus panjang sewarna degan celananya, dan sebuah mantel panjang berkerah tinggi berwarna coklat muda, dan sebuah syal berwarna pastel. Tambahan gerimis pagi ini menambah dingin kota yang sudah dingin.


06.15. Ketika pintu apartemen itu akhirnya terbuka. “Ah... samui...” dia berjalan sedikit tergesa, kaki jenjangnnya begerak lincah menghindari genangan air, dan yah... dia sedikit menggigil, meski sudah merapatkan mantel coklatnya. Dia bilang hari ini anginnya sedikit kejam. Lima belas menit kemudian dia sampai disebuah subway, tak terlalu penuh karena masih pagi, terlebih sebenarnya hari ini hari libur. Lalu kira-kira kemana dia akan pergi?


“Hari ini perpustakaannya pasti tidah terlalu ramai, aaah, akhirnya aku bisa menikmatinya tanpa keributan.”


Betul sekali. Perpustakaan. Tepatnya perpustakaan kota yang biasanya dipenuhi oleh siswa sekolah. –eh? Perpustakaan? Baik sepertinya jam-jam yang ia lalui dihampir setiap harinya belum cukup untuk memperhatikan semua buku-buku yang dia bilang, “Mereka memiliki aroma yang menawan.” Di dalam kereta dia melakukan kebiasanya yang belum berubah sejak lima tahun yang lalu. Mendengarkan lagu melalui handphonenya, alih-alih sebuah i-pod.


Kereta bergerak anggun melewai beberapa stasiun, dan dia masih memejamkan matanya, setengah tertidur karena perjalanan yang cukup jauh. Dan setelah 45 menit akhirnya dia sampai, tapi tentu saja perjalanannya belum selesai. Meskipun perpustakan kota, tapi tempatnya sedikit terpencil. Itulah kenapa banyak siswa sekolah yang sering datang ketempat itu untuk belajar. Karena tak banyak fasilitas yang bisa mereka manfaatkan. Dan untuk itu dia harus naik bus selama 45 menit lagi. Sepertinya perjalanan yang melelahkan.


Baru sepuluh menit berlalu ketika akhirnya dia benar-benar tertidur. Saat benar-benar sampai, dia terlonjak kaget karena sang supir berteriak padanya apakah dia ingin turun. “Ne, wakarimashita! Terima kasih sudah membangunkanku!” katanya sambil tersenyum kecut. Dia benar-benar kaget sampai-sampai rasa kantuknya pergi tak tersisa. Baru jam sembilan pagi, dan perputakaan baru akan dibuka satu jam lagi. “Saatnya mengisi perut.”


Dia berjalan menuju sebuah kedai kecil di seberang perpustakaan. Berpikir, sepertinya semangkuk mie bukanlah hal yang buruk.


Dan sekarang, di depannya telah tersaji semangkuk besar bakmie, dengan irisan besar daging di atasnya. Dan dia menyantapnya dengan sangat lahap, malahan terlalu lahap, seolah dia tak bertemu makanan selama berhari-hari. “Hwaaah... aku merasa sangat terhormat bisa memakanmu sepagi ini, hehehe...”


Sepertinya hari ini akan lebih panjang dari biasanya....




~tbc~



NB:
Ini story bebas, tokoh utamanya sengaja gak dikasih nama, mau di anggap cewe boleh, cowo juga boleh... hohoho *ini buatan Kuroko loh* XD



Regards: Kuroko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen boleh, engga juga gapapa....