Rabu, 28 Oktober 2009

Fanfic Naruto: Memories of The Unknown Kunoichi

Kunoichi itu terdiam.

"Lagi-lagi kesadaran meninggalkan ku, menenggelamkan ku pada tangis tak berujung.
Yang tak pernah ku tahu sebabnya".

"Bagaimana mungkin aku membunuhnya?", tanya ku dalam hati. "Mengapa begitu lama untuk menyadarinya? Nyawanya tak lebih penting dari Sasuke, seharusnya aku tahu hal itu"

Naruto juga akan mati jika Sasuke mati.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-First Meet-


Hutan Konoha.
Pagi hari.
Setidaknya aku merasa begitu.
Sayup ku dengar suara kicau burung. Begitu ramai, seolah mereka ingin membangunkan semua orang di Konoha.

Ku membuka mata ku perlahan.
Silau. Rupanya matahari sudah memulai aktifitasnya setelah bersembunyi semalam suntuk.

Yang pertama ku lihat saat aku membuka kedua mata ku adalah sepasang mata berwarna biru muda yang begitu cerah. Sampai-sampai ku pikir langit pagi ini terlihat begitu dekat.

Tapi rupanya bukan.
Melainkan seorang ninja Konoha!

Seingat ku, hanya ada satu orang ninja Konoha yang memiliki rambut pirang dan sepasang mata berwarna langit dengan sennyuma bodoh khas miliknya.
Dengan refleks aku bangun dan loncat beberapa langkah menjauhinya.

"Uzumaki Naruto", ucap ku pelan, nyaris berbisik.

Tapi sepertinya dia mendengar ucapan ku.
"Ng? Kau mengenal ku?", tanya Naruto dengan raut wajah heran.

Saat itu Naruto bersama Kakashi sensei, Yamato Sensei, dan Sai.
Kali ini tanpa Sakura.

Mereka berempat menatap ku tajam, dengan posisi siaga dan kunai dimasing-masing tangan mereka.
Seolah aku adalah buronan level 'S' yang siap menyerang.

'Kenapa mereka setegang itu?', batin ku.
Tanpa ku sadari, ternyata aku telah menghunus pedang ku, entah sejak kapan.

Aku sedikit tersentak mendapati tangan ku mencengkeram benda itu dengan eratnya.
Buru-buru ku sarungkan pedang ku, "Ah! Ma... Maaf", kata ku.

Situasi mengendur.
Mereka juga menurunkan kunai yang mereka genggam.
Kecuali Naruto, ninja yang penampilannya paling mencolok itu tetap pada posisinya.

Posisi waspada dan siap menyerang...

"Hei! Aku bertanya pada mu! Kau ini siapa?!", teriakan Naruto memecah keheningan di hutan Konoha yang begitu sunyi pagi ini.

"Sepertinya pertanyaan mu sedikit berbeda dengan yang tadi", jawab ku. Ninja yang satu ini memang tak pernah bisa tenang dan tidak sabaran.

"Lagipula aku yang seharusnya bertanya, apayang tadi ingin kau lakukan pada ku?", lanjut ku. Aku sedikit penesaran mengenai kejadian saat aku sadar.

"Ng? Kejadian yang mana maksud mu?", tanya Naruto bingung.

'Ugh! apa aku harus menjelaskannya secara detail?', batin ku, 'Naruto ini memang bodoh!'.

"Mm... Kejadian barusan, saat aku sadar, kenapa wajah mu begitu dekat dengan wajah ku? A... Apa yang ingin kau lakukan pada ku?", tanya ku ragu-ragu.

"Deg!!!", Kakashi Sensei, Yamato Sensei, dan Sai nampak terkejut.
Dan aku merasakan 'firasat' buruk.

Tapi tidak dengan Naruto, ninja yang biasanya berisik itu tetap tenang, sambil memikirkan pertanyaan ku barusan.

". . . . . . . . . .", dia benar-benar terdiam.

"Oh! Aku ingat sekarang!", jawanya sambil tersenyum sumringah, "Jadi begini ceritanya...."


~~~~~~~~~Continued~~~~~~~~ ~



Yang berkenan baca silahkan komennya ^^


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Looser

Entah sejak kapan, rasanya aku mulai sulit tidur, "insomnia", itukah namanya?

Aku benci kehidupan ku, selalu saja terasa datar, meskipun kadang ada masalah yg bertamu. Selalu saja terasa sunyi, meskipun banyak orang bercuap ditelinga ku.

Sungguh membosankan, selalu saja terasa sama dan terus berulang, "monoton", itukah namanya?


01.30 pagi, mata ini tak juga terpejam, terasa kantuk, tapi tak juga dapat terlelap. Aku benci!!!

Mungkin, sesungguhnya aku tak membenci kehidupan ku, aku memiliki orang tua yg sabar, sahabat yg begitu setia disamping ku.

Mungkin sesungguhnya yg ku benci adalah DIRIKU sendiri, yg tidak mengerti begitu sabarnya orang tua ku, pada sikap ku, pada ketidakbertanggungjawaban ku, pada keacuhan ku.

Yang tidak mengerti bahwa begitu perdulinya sahabat2 ku pada diriku, orang yg kadang tak memperdulikan mereka, menganggap mereka hanya sebuah wayang pengibur dikehidupan ku, dan tak pernah merasa cukup akan kehadiran mereka di sisi ku.

Aku adalah orang tak berguna yg selalu mengenakan topeng keegoisan. Seorang introvert yg berusaha mengenali dirinya, yg tak juga muncul meskipun ia bercermin. Menyedihkan.

Sesungguhnya, insomnia dan keping monoton itu mengganggu ku, tapi aku juga tak ingin melepas mereka. Menyedihkan.

Belet!!!!!!!

Nitnya mau ngisi blog diwarnet, tapi pas sampe warnet jadi aga nyesel!!!!!!!

WARNETNYA LOLA!!!!!!!!!!!!!!!

Uda layarnya ga jelas!
Asli gw nyesel!!!!

Tapi kalo diruma doang juga malay si ><

Sabtu, 17 Oktober 2009

Life is sucks and unbelieveable

Bottom of Form


08 Oktober 2009

Kenapa aku yang hidup?

Kenapa dia harus mati?

Bukankah akan lebih baik kau saja yg ada di sini, Kak?

Aku lelah berada di sini. Kak, bisakah aku menyusul mu?
Aku ingin melihat wajah mu yg tak pernah terekam di benak ku, adik mu.

Kadang aku ingin mati, menyudahinya.
Tapi aku tak punya keberanian yg cukup untuk melalukannya.
Dan untuk menahan sakit saat ajal mengetuk pintu kehidupan ku.

Lagi pula, itu tindakan pengecutkan?
Melarikan diri dari kehidupan yg sangat tak masuk akal ini, kehidupan yg nampaknya kian menggencet ruang bernafas ku dari waktu ke waktu.

Tapi aneh, meskipun aku ingin mati, aku juga tak ingin berhenti bertahan hidup. Aku ingin terus tersenyum.
Entah untuk apa.....

Kak, bagaimana di sana?
Apa kau bahagia?
Apa kau akan lebih bahagia jika kau berada di sini?

Bersama adik, ayah, ibu, dan kakak mu?

Kak, aku sungguh ingin bertemu dengan mu, walau hanya dalam mimpi.
Meskipun itu tak nyata.....

FFNaruto Those eyes

Seorang gadis tak dikenal dan 2 orang ninja Konoha.  


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 


Senja.  

Aku baru saja memijakkan kaki ku beberapa langkah saat pulang dari Rumah Sakit Konoha.  
Sampai ketika aku telah berada di persimpangan jalan, saat mereka berdiri di jalan yg berlainan.
Kami berada di 3 cabang jalan yg berbeda.
Seorang dari mereka berdiri dengan senyuman lebar hingga menampakkan deretan giginya yg khas. Seorang lagi berdiri dengan raut wajah datar, dengan bibir terkatup membentuk sebuah garis lurus. Nyaris tanpa ekspresi.
Aku menatap mata-mata itu bergantian. Meskipun mereka berdiri sejajar, namun sungguh berbeda untuk disejajarkan.
Yang seorang memiliki mata berwarna secerah langit pagi hari. Begitu biru dan nampak bersemangat.
Seorang lagi memiliki mata sekelam malam, begitu dingin, dan tak terlihat apapun selain hitam yg begitu pekat.
 

Gadis tak dikenal: "Menunggu ku?"
 

Ninja bermata biru: "Hehehe, tentu saja!"
 

Ninja bermata hitam: "Hm... Ayo kita pulang!"
 

Gadis tak dikenal: (tersenyum)
 

Akhirnya perjalanan kami beralih kepada jembatan yg berada di samping kiri persimpangan. Sebuah jembatan berwarna merah darah di atas sungai sejernih embun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 


Bisakah birunya langit menghapus kelamnya badai?


Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei